Agar Bangkit dari Gagal

Tahun 1955-1975, Amerika Serikat (AS) terlibat dalam salah satu perang terpanjang yang pernah mereka hadapi, yaitu Perang Vietnam. AS membantu Vietnam Selatan menghadapi perlawanan dari Vietnam Utara yang dibantu sekutu komunisnya, seperti Uni Soviet dan Tiongkok.

James Bond Stockdale adalah komandan VF-51, salah satu skadron pesawat tempur dari kesatuan angkatan laut (AL) AS yang terlibat dalam perang tersebut. Pada 9 September 1965 Stockdale diperintahan untuk memimpin penerbang pilot AL AS dalam operasi penyerangan ke salah satu titik yang dikuasai musuh di Vietnam Utara.

 

Dalam misi tersebut, pesawat Douglas A-4 Skyhawk yang dipiloti oleh Stockdale berhasil ditembak oleh senjata anti pesawat udara (anti-aircraft) dari musuh. Sebelum pesawatnya jatuh, Stockdale berhasil melontarkan diri dari pesawatnya, mendarat dengan parasut di sebuah desa kecil, untuk akhirnya ditemukan oleh pasukan musuhnya.

 

Stockdale ditawan oleh musuhnya sebagai tawanan perang (prisoner of wars, POW) di sebuah penjara bernama Hoa Lo (atau popular disebut Hanoi Hilton). Di penjara tersebut Stockdale adalah prajurit AS dengan pangkat tertinggi yang menjadi tawanan perang, mengingat ia adalah salah satu komandan pasukan AL. Berkat statusnya tersebut, Stockdale mengalami penyiksaan yang lebih hebat dibandingkan tawanan-tawanan yang lain (untuk menurunkan moral prajurit lainnya dengan pangkat yang lebih rendah).

 

Stockdale termasuk dalam sebelas tawanan spesial yang disebut Alcatraz Gang, yang ditawan di sel terasing dari tawanan lainnya, berada sekitar 1 mil jaraknya dari penjara Hoa Lo. Di sel tersebut, masing-masing tawanan dipenjara di sel tanpa jendela, dengan luas hanya sekitar 1 m x 3 m, dengan lampu menyala 24 jam, serta tidur dengan borgol kaki.

 

Stockdale dibebaskan dari penjara tanggal 12 Februari 1973, artinya ia menjadi tawanan perang selama sekitar 7,5 tahun, bertahan dari segala interogasi maupun penyiksaan dari pihak musuh. Apa yang Stockdale lakukan dalam melewati masa 7,5 tahun paling berat dalam hidupnya ini? Dalam sebuah buku berjudul Good to Great karya Jim Collins, Stockdale menceritakan caranya menghadapi kondisi sulit tersebut:

 

”Saya tidak pernah kehilangan kepercayaan dalam hidup. Saya tidak pernah meragukan bahwa tidak hanya saya akan keluar dari sana tetapi juga bahwa saya akan menang pada akhirnya. Karena saya berhasil mengubah pengalaman buruk tersebut menjadi salah satu kejadian paling bermakna dan menentukan dalam hidup saya.”

 

Ketika ditanya oleh Collins siapa yang tidak bisa keluar dengan selamat dari Vietnam, Stockdale menjawab:

 

”Oh, itu mudah, mereka adalah orang-orang optimis. Oh, mereka adalah orang-orang yang mengatakan, ”Kami akan keluar saat hari Natal.” Hari Natal lalu datang, kemudian segera pergi. Kemudian mereka akan mengatakan, ”Kami akan keluar saat Paskah.” Paskah lalu datang, kemudian segera pergi. Dan kemudian hari Thanksgiving, kemudian hari segera berlalu menjadi Natal lagi. Dan mereka pun meninggal karena kecewa.”

 

Stockdale kemudian menambahkan, ”Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Anda tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Anda akan menang pada akhirnya. Anda memang tidak boleh kalah, pada saat Anda menghadapi keadaan yang paling brutal dari kenyataan Anda saat ini, apa pun itu.”

 

Stockdale memunculkan sikap ”optimis realistis”. Dalam tawanan, Stockdale tidak pernah sedikit pun kehilangan keyakinan bahwa ia akan keluar dari penjara Hanoi Hilton hidup-hidup (optimis). Namun di sisi lain, ia berhasil menghadapi keadaan paling menyakitkan dalam hidupnya dengan melakukan satu-satunya tindakan yang bisa ia lakukan (realistis).

 

Apa yang Stockdale lakukan di sana? Ia, walaupun dikurung secara terpisah, bisa berkomunikasi dengan dengan tawanan lain. Ia menggunakan yang disebut ”tap code” alias ”kode ketukan” di dinding sel. Saat ia mau memanggil tawanan di sebelahnya, Stockdale menggunakan ketukan seperti ”tik-tik-ta-tik-tik”. Saat tawanan sebelah siap menerima kata pertama dari Stockdale, ia menjawab dengan mengetuk ”tik-tik” di dinding sel.

 

Ya, dengan cara tersebut, tawanan-tawanan di sana tahu bahwa mereka masing-masing masih hidup, sehingga mereka harus tetap bertahan hidup hingga saatnya mereka dibebaskan. Cara ini mengangkat moral dan harapan hidup mereka.

 

Setelah dibebaskan dari Vietnam Utara pada tahun 1973, Stockdale mendapat medali kehormatan dari Presiden Amerika Serikat dan tetap bertugas di AL. Akan tetapi, karena penyiksaan yang dialaminya selama ditawan di Hanoi, kondisi fisiknya tidak memungkinkannya untuk kembali menjadi penerbang. Ia menjadi direktur dari institut pendidikan AL yaitu ”Naval War College” sebelum akhirnya pensiun pada tahun 1979 dengan pangkat terakhir vice admiral atau letnan jenderal dengan tiga bintang.

 

Walaupun sudah tidak aktif di AL, Stockdale tetap berkarya. Antara lain menjadi Hoover Institution fellow di Stanford Univesity selama 12 tahun sejak 1981, di mana ia banyak menulis dan mengajar mahasiswa. Bersama istrinya, Sybil, Stockdale menulis buku In Love and War: the Story of a Family’s Ordeal and Sacrifice During the Vietnam War yang berisi memorabilia pengalaman Stockdale selama beada di Vietnam dan kisah Ny. Sybil Stockdale membantu sesama istri/keluarga tawanan perang di League of American Families of POW’s/MIA’s. James Bond Stockdale wafat pada 5 Juli 2005 akibat penyakit Alzheimer.

 

Kisah Stockdale saat menghadapi masa-masa terburuknya menjadi tawanan perang di Vietnam diberi nama Stockdale Paradox oleh Jim Collins. Menjadi paradoks, karena saat Stockdale tidak pernah kehilangan optimisme dan keyakinan bahwa ia akan keluar dari penjara di Vietnam, justru teman-temannya yang paling optimis (ingat bagian ”saya akan keluar saat Natal.”) adalah mereka yang tewas lebih dulu di dalam tahanan. Menjadi paradoks, karena Stockdale berpikir optimis lalu tetap hidup, namun banyak di antara rekannya yang juga optimis tetap tewas.

 

Hal yang membedakan adalah para ”optimis buta” dengan Stockdale yang ”optimis realistis” adalah mereka yang ”optimis buta” tidak berani menghadapi realitas kehidupan yang amat sulit di depan mata. Mereka tidak berani bertindak. Mereka lebih memilih menjadi burung onta yang mengubur kepalanya di dalam pasir dan berhadap kesulitan yang mereka hadapi akan pergi dengan sendirinya. Padahal masalah dan kesulitan tidak akan berlalu sampai dihadapi hingga selesai. Itulah yang membedakan optimisme Stockdale dengan mereka yang hanya sekadar ”optimis”.

 

What doesn’t kill you makes you stronger. Pernyataan tersebut adalah bagian dari lirik lagu Stronger (What Doesn’t Kill You) yang dipopulerkan oleh Kelly Clarkson, diambil dari buku Philosophize with a Hammer karya filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Setelah mengalami masalah-masalah terberat dalam hidup, kita memang bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Syaratnya, kita harus menjadi orang yang ”optimis realistis”.

 

Jika kita tidak optimis, kita akan terpuruk dan tidak mungkin menang, karena sudah kalah sejak dalam pikiran. Jika kita tidak realistis, kita juga akan kalah, karena tantangan, masalah yang nyata di depan mata kita tidak akan pernah terselesaikan.

 

Yang benar, kita harus ”optimis realistis”. Kita harus memiliki keyakinan bahwa kita akan menang dan jadi orang yang lebih baik pada akhirnya, dan di saat yang bersamaan, kita harus berani menghadapi fakta dan kenyataan di depan mata kita, seburuk apa pun itu.

 

 

Apakah Kamu Punya Mindset yang Benar, yang Bisa Membuatmu Bangkit Setiap Kali Gagal?

 

Mengapa ada orang yang berhasil bangkit lagi dari kegagalannya, tapi ada juga orang yang menyerah dan terus terpuruk? Apa yang membedakannya? Jawabannya adalah apa yang ada di dalam otak kita.

 

Otak kita adalah ”presiden” yang mengatur gerakan seluruh anggota tubuh kita. Mindset atau pola pikir, juga berasal dari otak, itu mengatur hidup kita secara keseluruhan. Apakah kita akan bangkit lagi setelah gagal atau menyerah setelah gagal, atau bahkan tidak pernah gagal (karena terlalu takut untuk mencoba), itu semua tergantung dari mindset kita.

 

Carol S. Dweck, Ph.D, adalah seorang profesor psikologi dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, menemukan bahwa manusia memiliki dua jenis mindset. Satu mindset mengarah pada keberhasilan hidup, satunya lagi mengarah pada hidup yang biasa-biasa saja. Mindset mana yang kamu punya? Yuk, coba jawab tesnya!

 

Tes Mindset Kamu

Jawab pernyataan di bawah ini dengan setuju atau tidak setuju

  1. Kita punya tingkat kepintaran atau bakat tertentu dan tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengubahnya
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Kecerdasan dan bakat kita adalah bawaan lahir, sesuatu dalam diri kita yang tidak bisa kita ubah
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Tak peduli siapa pun kita, tingkat kecerdasan maupun bakat kita bisa bertambah secara signifikan
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Kita tidak bisa mengubah seberapa cerdas, pintar, dan berbakatnya diri kita.
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Kita akan selalu bisa mengubah seberapa pintar dan berbakatnya diri kita
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Kita bisa belajar hal-hal baru, tapi kita tidak benar-benar bisa mengubah bakat dan tingkat kepintaran kita secara mendasar
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Tidak peduli seberapa tinggi tingkat kecerdasan atau bakat yang kita miliki, kita akan selalu bisa mengubahnya sedikit atau banyak
    Setuju | Tidak Setuju

 

  1. Kita bahkan bisa mengubah tingkat kecerdasan dan menambah bakat kita secara mendasar
    Setuju | Tidak Setuju

 

Cek Jawaban Tes

 

  1. Jika menjawab Setuju, beri nilai 0. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 1
    2. Jika menjawab Setuju, beri nilai 0. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 1
    3. Jika menjawab Setuju, beri nilai 1. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 0
    4. Jika menjawab Setuju, beri nilai 0. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 1
    5. Jika menjawab Setuju, beri nilai 1. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 0
    6. Jika menjawab Setuju, beri nilai 0. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 1
    7. Jika menjawab Setuju, beri nilai 1. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 0
    8. Jika menjawab Setuju, beri nilai 1. Jika menjawab Tidak Setuju, beri nilai 0

 

Jumlahkah seluruh nilai yang kita dapatkan dari tes di atas.
Jika nilai kita 0-5, kita memiliki fixed mindset.
Jika nilai kita 6-8, kita memiliki growth mindset.

 

Fixed Mindset ”Gagal = Sia-sia” vs Growth Mindset ”Gagal = Belajar”

 

Bagaimana hasil tes mindset-mu? Fixed mindset atau growth mindset kah? Apa artinya? Secara sederhana, fixed mindset adalah pola pikir orang-orang yang merasa bahwa tingkat kecerdasaan dan bakat itu adalah bawaan lahir. Sesuatu yang sangat sulit diubah sampai akhir hayat.

 

Orang-orang dengan fixed mindset fokus pada melihat kecerdasan dan bakat pada dirinya. Mereka cenderung menghindari tantangan yang sulit dalam hidup mereka, karena mereka selalu mengukurnya dengan kecerdasan dan bakat yang dimiliki. Jika ada tantangan baru yang sangat sulit dan dirasa tidak akan sanggup untuk dihadapi, mereka tidak akan mengambil tantangan itu. Sebaliknya, jika mereka sudah menjalankan tantangan itu dan menghadapi hambatan atau kegagalan, mereka menyerah dan berhenti. Orang-orang dengan fixed mindset akan selalu beralasan, ”Saya tidak punya kemampuan yang cukup untuk menghadapi ini.”

 

Bagi orang fixed mindset, kegagalan adalah sebuah upaya yang sia-sia. Waktu yang terbuang, tenaga yang hilang, dan rasa malu di hadapan banyak orang. Selain itu mereka tidak akan bangkit lagi dari kegagalan. Ngapain melakukan sesuatu yang hasilnya mungkin gagal dan kembali sia-sia?

 

Sebaliknya, orang-orang dengan growth mindset melihat bahwa kecerdasan dan bakat itu bisa dibentuk dan terus ditingkatkan. Apa pun tantangan yang ada di depan mata, mereka selalu bisa belajar dari sana, baik berhasil atau pun gagal. Mereka tidak fokus pada kecerdasan maupun bakat dirinya saat ini, mereka fokus pada mendapatkan atau mempelajari hal-hal baru dari setiap tantangan yang dihadapi.

 

Saat orang-orang dengan growth mindset melakukan tantangan yang berujung pada hambatan atau kegagalan, mereka juga berhenti. Bukan untuk menyerah, tapi untuk berpikir, ”Apa pelajaran terbesar yang dapat saya ambil dari kegagalan ini?”

 

Bagi orang dengan growth mindset, kegagalan adalah proses pembelajaran yang harus dilewati. Mereka jelas akan bangkit lagi dari kegagalan mereka. Mengapa takut gagal jika banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang bisa diambil dari sana?

 

Tapi apa benar kecerdasan dan bakat itu bisa dibentuk? Jawabannya, YA! Hal ini sejalan dengan penelitian mengenai otak selama beberapa puluh tahun terakhir: otak itu seperti otot, bisa dibentuk.

 

Tahu binaragawan seperti Ade Rai atau bintang iklan susu protein tinggi kan? Mereka melatih ototnya dengan keras dan teratur. Hasilnya otot mereka keras dan memiliki bentuk yang bagus seperti itu. Sama halnya dengan otak. Bakat apa pun dapat dilatih, kecerdasan pun bisa meningkat.

 

Dalam biologi kita belajar cara kerja otak: sel-sel otak (disebut neuron) yang jumlahnya miliaran itu saling terhubung satu sama lain. Semakin banyak dan kuat hubungan yang terjadi antar neuron, semakin tinggi tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki.

 

Lalu bagaimana cara melatih otak? Ya dengan terus dilatih berpikir, belajar hal-hal baru, berani mencoba, dan GAGAL!

 

Tahu anak kecil dong? Lihat bagaimana mereka saat belajar makan? Pasti awalnya tumpah-tumpah, lama-lama bersih! Lihat bagaimana mereka saat belajar berjalan? Awalnya jatuh dan nabrak-nabrak, lama-lama mereka berlari! Lihat bagaimana mereka belajar bicara? Awalnya cuma ngomong ah-uh-ah-uh tidak jelas, lama-lama cerewet!

 

Ingat saat-saat kita belajar naik sepeda? Awalnya nabrak-nabrak, lama-lama kita berani ngebut! Saat kita kecil, kita belajar banyak sekali hal baru dan berkembang dengan sangat cepat. Mengapa saat sekarang sudah tumbuh dewasa, kita berhenti belajar?

 

Secara ringkas, ini perbedaan karakteristik orang yang memiliki growth mindset dengan orang yang memiliki fixed mindset.

 

 

Empat langkah memperbaiki Mindset kita, agar bisa bangkit lagi

 

Merasa memiliki fixed mindset? Ini empat langkah sederhana untuk mengubahnya.

 

Empat Langkah Mengubah Mindset
Pertama, Belajar Mendengarkan ”Suara” Fixed Mindset Kita.

Pola pikir fixed mindset berbentuk suara-suara yang terngiang-ngiang di kepala kita. Belajarlah mendengarkan dan mengidentifikasi saat mereka hadir

 

Saat akan menghadapi sebuah tantangan baru, akan ada suara dalam hati yang mengatakan, ”Yakin mau nyoba? Emang bisa?” atau ”Gimana nanti kalau gagal? Malu kan?”

Atau saat menghadapi rintangan dan kegagalan yang menghadang, suara itu berubah menjadi, ”Kalo emang berbakat, ini pasti gampang deh” atau ”Tuh kan bener, dulu kubilang juga apa?” atau ”Duh, siap-siap malu deh.”

Atau saat mendapatkan kritik dan masukan, ia akan berbicara defensif, ”Ini bukan salahku. Ini salah orang lain!” Mungkin juga kita merasa kesal dengan yang memberikan kritik, ”Ih siapa sih kamu, berani-beraninya ngritik aku!”

Atau bahkan saat mereka benar-benar memberikan kritik yang spesifik dan membangun mengenai pekerjaan kita (bukan tentang diri kita), kita mendengarkannya sebagai ”saya benar-benar kecewa sama kamu. Saya pikir kamu berbakat, tapi ternyata tidak!”

 

Kedua, Sadari Bahwa Kita Punya Pilihan.
Bagaimana cara kita mengartikan tantangan, rintangan dan kegagalan, serta kritik yang kita dapatkan, itu adalah pilihan kita sendiri secara sadar. Kita bisa mengartikannya dalam fixed mindset sebagai tanda bahwa kita punya keterbatasan bakat atau kecerdasan atau kita mengartikannya dalam growth mindset sebagai tanda bahwa kita punya kesempatan untuk belajar hal baru dan mengembangkan bakat dan kecerdasan kita. Itu terserah kita.

 

Ketiga, Bicara Pada Diri Sendiri dengan Pikiran Growth Mindset.

Saat akan menghadapi sebuah tantangan baru:

Fixed Mindset: ”Yakin mau nyoba? Emang bisa?”
Growth Mindset: ”Sekarang sih mungkin enggak bisa, tapi saya mau belajar seiring waktu.”

 

Fixed Mindset: ”Gimana nanti kalau gagal? Malu kan?”
Growth Mindset: ”Orang-orang sukses juga banyak yang dulunya gagal kok.”

 

Saat menghadapi rintangan dan kegagalan:
Fixed Mindset: ”Kalau kamu emang berbakat, ini pasti gampang deh.”
Growth Mindset: ”Salah. Thomas Alva Edison aja dulu kesulitan baca-tulis dan dianggap bodoh sama keluarganya. Dia kerja keras kok untuk mengatasi hal tersebut.”

 

Fixed Mindset: ”Tuh kan bener, dulu aku bilang juga apa.”
Growth Mindset: ”Hmm, dari kegagalan ini, aku belajar tentang A, B, dan C! Wow, aku jadi semakin tahu!”

 

Saat mendapatkan kritik dan masukan:
Fixed Mindset: ”Ini bukan salahku. Ini salah orang lain!”
Growth Mindset: ”Kalau aku tidak bertanggung jawab, aku nggak akan bisa memperbaikinya. Biarkan aku dengar kritiknya meskipun menyakitkan dan mempelajari banyak hal yang bisa kudapatkan.”

 

Keempat, Lakukan Tindakan Growth Mindset.
Suara mana yang kita dengar sepanjang waktu akan menjadi pilihan tindakan yang kita lakukan. Kalau kita memilih mendengakan fixed mindset, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Lain halnya jika kita memilih mendengarkan suara growth mindset. Kita akan menghadapi tantangan baru dengan antusias, belajar dari rintangan dan kegagalan lalu mencoba lagi, dan mendengar kritik untuk memperbaikinya.

 

Latihlah diri kita untuk mendengarkan kedua suara mindset ini, lalu latihlah untuk bertindak dengan suara growth mindset. Insya Allah, setiap kali kita bangkit dari keterpurukan dan kegagalan, kita menjadi orang yang lebih baik lagi.

 

 

Jangan Biarkan Kegagalan Menghentikan Kita

Malam itu saya sekeluarga sampai di rumah sekitar pukul 22.30, setelah 5 hari mudik lebaran ke rumah orang tua dan mertua. Sudah lelah dan ingin segera istirahat, saya membuka pintu kamar yang dikunci satu persatu. Semua kamar berhasil dibuka, kecuali kamar anak saya.

 

Entah mengapa hanya satu kamar itu saja yang nyangkut. Padahal biasanya saya kunci sebelum pergi meninggalkan rumah dalam waktu lama tidak ada masalah. Hmmm, kenapa tiba-tiba begini, di waktu yang melelahkan pula?

 

Saya coba putar-putar kunci, tidak berhasil. Saya coba putar-putar gagang pintunya, tetap tidak terbuka. Saya coba dobrak dengan badan, tidak bergerak sama sekali. Saya buka rumah kuncinya untuk melihat jangan-jangan ada yang menyangkut, ternyata tidak ada apa-apa.

 

Istri saya meminta saya lanjut besok pagi saja, biar cepat istirahat malam itu. Saya belum menyerah, karena kalau kamar ini tidak bisa terbuka, anak saya tidak bisa ambil baju ganti di lemarinya. Saya ambil obeng, saya coba congkel sebisanya. Masih belum berhasil.

 

Saya akhirnya memutuskan untuk menuruti kata istri saya untuk lanjut besok pagi. Setengah putus asa, saya coba untuk terakhir kalinya, mendorong lagi pintunya sambil memutar gagang pintu. Ternyata, tiba-tiba pintunya berhasil terbuka! Aneh sekali, pikir saya, mengapa setelah berkali-kali gagal saat mencoba, justru saya berhasil membuka pintunya tepat di titik saat saya mau menyerah?

 

Dari pengalaman ini, saya langsung teringat sesuatu: betapa seringnya saya merasakan, keberhasilan justru datang di titik kita hampir menyerah. Saat saya hampir putus asa menghadapi kegagalan, saya mencoba sekali lagi, di situlah tiba-tiba saya berhasil.

 

Semua kisah kegagalan yang saya angkat di buku ini menunjukkan bahwa mereka pun mengalami kondisi ingin menyerah dan pasrah saja. Tapi mereka juga menunjukkan bahwa dalam kondisi hampir menyerah itu, mereka mencoba satu kali lagi. Pada akhirnya, mereka berhasil sukses.

 

*dinukil dari buku Unstoppable karya Ilman Akbar terbitan Metagraf.