Berani Keluar dari Zona Nyaman

Berani keluar dari rasa zona nyaman merupakan modal dasar bagi pribadi creativepreneur. Bayangkan saja, dalam situasi yang penuh kepastian dengan gaji tetap bulanan pada satu perusahaan, tiba-tiba ada penawaran proyek yang penuh tantangan dari pihak lain, suatu proyek yang hanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Bisa dipastikan pribadi creativepreneur akan menerima proyek tersebut. Lantas, bagaimana dengan risiko kehilangan tempat kerja pertama karena tidak memungkinkan bagi si creativepreneur untuk bekerja sekaligus menjalankan proyek itu tersebut?

Dapat dipastikan pula bahwa pribadi creativepreneur akan mengambil risiko untuk keluar dari pekerjaan utama demi menerima tantangan proyek baru yang menarik itu. Ia berani keluar dari zona nyaman.

Pengalaman ini dirasakan sepenuhnya oleh penulis ketika pada tahun 2006 bekerja di sebuah majalah traveling bulanan di Jakarta dengan posisi sebagai redaktur harian sekaligus baru memulai membangun sebuah rumah produksi (production house) dengan beberapa sahabat. Tiba-tiba, datang sebuah tawaran untuk berkarya di Aceh dalam program rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh-Nias usai bencana tsunami.

Tentu saja secara fisik penulis tidak mungkin berada di dua kota sekaligus. Penulis pun mengundurkan diri dari majalah tempat penulis bekerja sejak 2003 dan meminta izin pada teman-teman dari rumah produksi untuk sementara tidak aktif karena harus segera berangkat ke Aceh. Penyebabnya, penulis merasakan panggilan hati yang sangat kuat untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan di Aceh sejak mendengar peristiwa bencana Aceh tahun 2004.

Penulis berangkat ke Aceh dengan kontrak dari lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah United Nation Development Program (UNDP) hanya dalam jangka waktu satu tahun dengan masa percobaan tiga bulan dan ditempatkan di lembaga Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Keluar dari rasa nyaman dengan posisi pekerjaan yang sudah cukup mapan diambil dengan cepat oleh penulis karena melihat adanya peluang.

Usai menjalani kontrak selama satu tahun, penulis pun mendapatkan kesempatan untuk perpanjangan kontrak. Namun, lagi-lagi penulis tidak mau berada di titik nyaman terlalu lama. Penulis dengan terpaksa menolak tawaran yang menggiurkan tersebut karena penulis sudah berkomitmen pada diri sendiri, bahwa di pertengahan tahun 2007 akan mulai melanjutkan kuliah S2 di Jakarta. Melanjutkan kuliah S2 dan juga menjalani karier sebagai associate creative director di production house pun dijalani, plus kembali menjadi relawan pada sebuah organisasi pemantau pemilu (pemilihan umum) di Indonesia, Komite Independepen Pemantau Pemilu (KIPP) yang sudah dijalani oleh penulis sejak tahun 1999.

Kemudian, lagi-lagi pada tahun 2008, saat masih kuliah S2 di Departemen Ilmu Komunikasi- FISIP UI serta menjalani karier di rumah produksi, ada tawaran untuk menjadi relawan pemantau pemilu internasional selama 1 bulan lebih pada pemilihan umum di Nepal. Lembaga yang menawari penulis adalah lembaga internasional yang berbasis di Bangkok, Thailand, Asian Network for Free Election (ANFREL).

Pola-pola seperti itu pun kemudian makin sering penulis rasakan sebagai bagian dari menerima setiap tantangan, meraih setiap kesempatan, sekaligus berani keluar dari rasa nyaman. Demikian pula ketika penulis kembali menerima penawaran untuk menjadi pemantau pemilu internasional (international observer) ke Afghanistan (2009), Filipina (2010), Nepal (2013), dan kembali ke Afghanistan pada tahun 2014.

Bagaimana dengan zona nyaman Anda? Beranikah Anda meninggalkannya untuk mengembangkan kapasitas diri?