Jiwa Kompetitif

I’ve missed more than 9,000 shots in my career. I’ve lost almost 300 games. 26 times, I’ve been trusted to take the game winning shot and missed. I’ve failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed.

—Michael Jordan

 

Memiliki jiwa kompetitif menjadi salah satu karakteristik para creativepreneur yang relatif cukup menonjol. Hal ini disebabkan secara naluri ia harus bekerja dengan cepat dan keras untuk mampu menyelesaikan yang menjadi tugasnya. Demikian kompetitifnya, sering kali creativepreneur pun seolah berkompetisi dengan diri mereka sendiri.

 

Dalam buku AZ of Careers & Jobs yang ditulis Susan Hodgson (2008), dari sekitar seratus jenis pekerjaan, dua puluhan di antaranya digambarkan bersifat sangat kompetitif, penuh persaingan. Jadi, secara natural para creativepreneur akan menyesuaikan dirinya dengan sifat karier yang dijalaninya, termasuk apabila berada dalam dunia kerja yang sifat aslinya memang penuh kompetisi.

 

Penulis merasakan sendiri bahwa sifat kompetitif menjadi bagian dari karakter penulis setelah sekian tahun menjalani karier beragam. Dulu saat bekerja menjadi jurnalis di sebuah majalah pria, hampir selalu tulisan penulis selesai sebelum masa tenggat tiba. Bahkan, penulis masih bisa membantu para jurnalis lain untuk mencarikan bahan riset dan tulisan mereka. Terkadang energi yang lebih juga membantu bagian periklanan untuk bertemu dengan klien, para pemasang iklan. Karakter kompetitif sungguh membantu penulis untuk terus mengasah kemampuan jurnalis yang ada dalam diri.

 

Ketika kemudian penulis memutuskan juga menjadi dosen, maka yang terjadi jiwa kompetitif pun terus muncul. Apabila ada informasi kegiatan pengiriman materi riset untuk diikutsertakan pada konferensi tingkat nasional ataupun internasional, secara naluri, karakter kompetitif akan memacu penulis untuk segera menyelesaikan materi yang hendak dikirim tersebut.

 

Termasuk ketika hendak melanjutkan kuliah S3 di UI. Saat itu penulis menjadi orang terakhir (dalam ruangan kerja) yang tahu informasi tentang pendaftaran kuliah tersebut. Sudah ada dua orang lainnya dalam satu ruangan kerja tersebut yang mendaftar ke UI. Namun, karena jiwa kompetitif dalam diri penulis muncul dengan kuat, segala kelengkapan dan persyaratan pendaftaran pun segera dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan cepat, termasuk meminta dua rekomendasi dari dua mantan dosen penulis. Yang satu harus didatangi di rumahnya, sementara yang satunya harus dikunjungi di kantornya. Setelah semua persyaratan lengkap, penulis langsung mendaftar online pada hari terakhir dan di detik-detik terakhir penutupan pendaftaran. Lagi-lagi, karakter kompetitif sungguh menjadi penyelamat bagi keberlangsungan karier penulis. Semua menjadi mudah dan menyenangkan untuk dijalankan.

 

Jiwa kompetitif terkadang bisa diukur dengan mudah dalam bentuk kegiatan olahraga yang dijalani. Apabila Anda menyukai menjalani olahraga yang sifatnya permainan dengan diri sendiri, misalnya joging, bersepeda, renang, itu artinya Anda relatif kurang kompetitif dibandingkan dengan penggemar olahraga pertandingan, seperti futsal, basket, tenis, badminton, dan yang lainnya. Adrenalin penyuka kompetisi lebih terbangunkan apabila ada ”lawan” yang harus dikalahkan.

 

Namun, jangan salah juga, adakalanya orang-orang yang menyukai renang, joging, dan bersepeda juga menjadi sangat kompetitif. Hal ini bisa terjadi saat diri mereka mencatat rekor kecepatan mereka sendiri dan hendak ”mengalahkan” diri sendiri apabila ada kesempatan. Karakter seperti ini tentulah sangat kompetitif dan sungguh akan menjadi karakter yang dahsyat apabila dimiliki pribadi creativepreneur.

 

Jadi, karakter kompetitif manakah yang Anda punya?