Kisah Sam Walton (1): Belajar Menghargai 1 Dolar

Belajar Menghargai Satu Dollar

Bagi Sam Walton setiap kesuksesan memiliki harganya sendiri. Pelajaran “keras” yang dialami olehnya adalah di bulan Oktober 1985 ketika majalah Forbes mendampuknya sebagai orang terkaya di Amerika. Tidak terlalu sulit bagi Sam untuk membayangkan semua surat kabar dan stasiun televisi tiba-tiba memperbincangkannya dan dengan wajah keheranan bertanya:”Siapa dia?” dan “Di mana dia tinggal?” Selanjutnya yang Sam tahu ketika wartawan dan fotografer mulai turun ke Bentonville, dan mereka berharap melihat Sam Walton sedang berenang dalam kolam uang yang dimilikinya atau melihat Sammembakar sebatang cerutu dengan uang pecahan 100 dollar sementara para gadis penggembira menari-nari di pinggir kolam.

Sam tidak memedulikan apa yang dipikirkan oleh para awak media dan juga tidak dalam posisi untuk bekerja sama dengan mereka. Mereka akan menemukan segala hal menarik tentang Sam seperti seorang Sam yang hanya mengendarai mobil truk barang bak terbuka dengan kandang kerangkeng khusus untuk mengangkut anjing-anjing pemburunya atau melihat Sam mengenakan topi baseball bertuliskan Wal-Mart. Sam yang memotong rambutnya di sebuah barbershop pinggiran kota-seseorang di antaranya bahkan menggunakan lensa panjang untuk mengintai dari kejauhan guna mengambil fotonya yang sedangduduk di kursi barber shop yang kemudian segera beredar di semua surat kabar di seluruh pelosok negeri. Kemudian orang-orang yang tidak pernah dikenalnya mulai menghubungi, menulis surat dan bahkan datang untuk meminta uang. Beberapa di antaranya mewakili pihak yang memang layak untuk dibantu tetapi banyak juga dari para pecundang dan orang konyol yang ada di dunia ini. Sam ingat di antaranya sebuah surat dari seorang wanita yang menulis,”Seumur hidup saya tidak pernah mampu memiliki rumah seharga 100.000 dollar yang selalu saya ingini. Maukah kamu memberikan uang tersebut?” Orang-orang ini masih melakukannya, meminta apapun seperti uang untuk membeli mobil, tamasya, uang berobat ke dokter gigi, dan apapun yang ada di kepala mereka.

Sam dan istrinya berusaha untuk tetap bersikap baik dan ramah. Mereka berbicara dengan orang-orang yang dijumpainya di jalan dan selalu nyaman hidup di tengah keterbukaan bersama komunitas. Tetapi mereka berdua sempat berpikir bahwa kekayaan ini akan menghancurkan gaya hidupnya. Mereka berusaha untuk melakukan tugas yang menjadi bagian mereka tetapi tiba-tiba semua orang berharap Sam membayar semuanya untuk mereka juga. Danorang-orang dari berbagai media menelpon ke rumah setiap jam tanpa kenal waktu dan terkadang berubah menjadi kasar ketika Sam dan istrinya Helen mengatakan “tidak” bagi para awak media TV, atau berkata “tidak” kepada majalah dan melarang mereka untuk mengambil foto-foto kehidupan pribadi keluarga Waltons. Semua itu membuat Sam merasa sangat kesal, karena apa yang mereka ingin ketahui sesungguhnya adalah tentang keuangan pribadi keluarga Waltons. Mereka sama sekali tidak tertarik dengan Wal-Mart, yang barangkali merupakan salah satu perusahaan terbaik pada masa itu, tetapi itu semua tidak pernah dimunculkan dalam pertanyaan-pertanyaan mereka. Kesan yang ditangkap oleh Sam adalah kebanyakan media dan beberapa orang Wall Street juga, berpikir bahwa Wal-Mart hanyalah berisikan sekumpulan orang kampung yang menjual kaos kaki di belakang mobil toko,atau bahwa kami adalah artis yang mendadak ngetop atau kaya dari menipu saham. Dan ketika mereka mencoba menulis tentang Wal-mart mereka menangkapnya secara salah dan kerapkali bercanda tentangnya.

Karena itu secara instingSam hampir selalu menutup rapat semua urusan pribadi di antara keluarga meskipun demikian mereka tetap hadir secara terbuka di antara masyarakat dan berbincang dengan orang-orang di toko setiap saat. Sangat beruntung di Bentonville para tetangga dan teman melindungi mereka dari para pemburu berita ini. Media biasanya menampilkan sosok Sam Walton sebagai orang murahan, penyendiri yang eksentrik, dan orang kampung yang kurang lebih tidur dengan anjingnya meskipun memiliki uang milyaran dolar tersimpan aman di dalam sebuah gua.

Kemudian ketika pasar saham mengalami kejatuhan di tahun 1987 dan demikianjuga dengan saham Wal-Mart bersama saham lainnya di pasar, setiap orang menulis bahwa saya kehilangan setengah milyar dollar. Ketika mereka menanyakan Sam tentang hal itu, Sam menjawab,” Itu hanyalah kumpulam kertas,” dan mereka ternyata menyukai jawaban tersebut.

Sekarang bagaimana sebenarnya sikap Sam tentang uang. Setelah masa kejatuhan pasar saham, keuangan mereka seperti layaknya keluarga normal Amerika lainnya adalah bukan bisnis siapapun melainkan bisnis mereka sendiri. Tidak perlu dipertanyakan bahwa sikap utama Sam terhadap uang berasal dari masa pertumbuhannya di masa-masa sulit dalam sejarah depresi berkepanjangan Amerika. Dan jantung wilayah di mana Sam berasal-Missouri, Oklahoma, Kansas, Arkansas, terpukul keras di masa-sama penuh kekelaman tersebut.

Sam dilahirkan di Kingfisher, Oklahoma di tahun 1918 dan tinggal di sana sampai Sam berusia 5, tetapi sepanjang yang masih mampu diingatnya adalah Springfield, Missouri, di mana Sam mulai bersekolah kemudian di sebuah kota kecil Marshall, Missouri. Setelah itu dia tinggal di Shelbina, di mana dia mulai sekolah lanjutan atas dan masih lagi berpindah ke Columbia di mana dia menyelesaikan sekolah lanjutan atas dan pergi ke perguruan tinggi.

Ayah Sam adalah Thomas Gibson Walton adalah sungguh pekerja keras yang bangun pagi hari dan bekerja dalam waktu panjang.Ayah Sam dikenal sebagai seorang yang jujur. Seutuhnya, sangat jujur, diingat oleh sebagian besar orang atas integritasnya. Dia juga memiliki sedikit karakter suka berdagang, suka membuat kesepakatan untuk apapun: kuda, tanah pertanian, mobil. Apapun. Suatu hari tanah pertaniannya di Kingfisher ditukar dengan tanah pertanian di Omega Oklahoma. Di kali lain dia menukar jam tangannya dengan babi sehingga kami menyantap daging sebagai hidangan. Ayah Sam adalah seorang negosiator ulung yang dikenalnya. Ayahnya memiliki insting yang luar biasa untuk mengenali apakah seseorang bias diajak berpartner atau tidak namun tetap bisa memelihara pertemanan meskipun kemudia terpisah. Ayah Sam selalu melibatkan Sam pada beberapa kesepakatan yang dibuatnya dan kesemuanya amat sangat baik (murah). Sam tidak merasa dirinya seorang negosiator yang terbaik, “Saya tidak mampu memeras sampai dolar terakhir,” Beruntung saudaranya Bud yang menjadi mitra bisnisnya sejak awal mewarisi kemampuan dan bakat ayahnya dalam hal negosiasi.

Ayah Sam tidak memiliki ambisi untuk membangun bisnisnya sendiri. Sepanjang pertumbuhan Sam dia mengenal ayahnya melakoni berbagai jenis pekerjaan. Dia adalah seorang banker dan petani, penaksir pinjaman bagi pertanian, agen asuransi sekaligus broker property. Pada masa resesi berkepanjangan ayah Sam keluar dari pekerjaannya dan pada akhirnya bekerja pada saudarnya Walton Mortgage Co., yang mana adalah agen dari Metropolitan Life Insurance. Tugas beliau adalah menangani ratusan petani. Sam ikut beberapa perjalanan ayahnya, beberapa di antaranya berakhir tragis namun ayah Sam berusaha keras dengan caranya untuk menjaga harga diri para kliennya.

Sam tidak merasa dirinya miskin di masa kecilnya meskipun tidak memiliki banyak penghasilan namun keluarga Sam mencoba mencari sumber penghasilan lewat berbagai cara sebagai contoh ibu Sam, Nan Walton punya ide untuk memulai bisnis susu kecil. Sam akan bangun pagi untuk memerah susu sapi. Ibunya akan menyiapkan botol-botol susu dan Sam akan mengirimkan susu-susu tersebut usai bermain bola. Mereka punya 10 sampai 12 pelanggan yang membayar sepuluh sen per galon. Sam juga mulai berjualan majalah berlangganan, kira-kira seumuran tujuh atau delapan tahun. Sam dibesarkan dengan menjual kelinci dan burung merpati, tidak ada yang terlalu aneh untuk dilakukan buat anak-anak desa pada jamannya.

Sam belajar sejak usia dini bahwa sangat penting bagi anak-anak membantu perekonomian rumah tangga, menjadi kontributor daripada hanya sebagai pengguna. Di dalam prosesnya tentu saja mereka belajar betapa kerja keras dibutuhkan untuk mendapatkan dolar di tangan dan mendapatkan sesuatu yang bernilai. Satu hal yang Sam dan saudaranya pelajari dari ibu dan ayahnya adalah pendekatan mereka terhadap uang. Mereka tidak hanya menggunakannya.

Bud Walton:

“Orang-orang tidak mengerti, kami begitu konservatif membelanjakan uang kami. Mereka mempersoalkan Sam yang sudah menjadi milyarder namun tetap menggunakan truk tua atau tetap membeli baju di Wal-Mart atau menolak menggunakan penerbangan kelas bisnis.

Begitulah kami dibesarkan. Ketika sebuah uang receh terletak di jalan, berapa banyak orang akan mengambilnya? Saya akan bertaruh saya akan mengambilnya. Dan saya tahu Sam pun akan melakukanhal yang sama.”

Ketika sudah waktunya untuk tampil di dunia nyata Sam sudah memiliki sikap yang sangat kuat tentang bagaimana menghormati nilai dari satu dolar. Tetapi pengetahuan Sam tentang uang dan keuangan tidaklah begitu canggih meskipun menyandang gelar sarjana bisnis. Kemudian Sam mengenal keluarga Helen yang kelak menjadi istrinya. Ayah Helen, L.S. Robson yang terdidik sangat memengaruhi Sam. Robson adalah orang yang sangat persuasif, salesman yang hebat. Keahliannya dalam bidang keuangan, hukum, dan filosofi hidupnya memiliki efek yang besar pada Sam. Sam sangat mengagumi Robson dan ingin sesukses dia pada suatu saat nanti.

Robson mengelola bisnis mereka berdasarkan konsep kemitraan di mana Helen dan saudara laki-lakinya adalah mitra di mana mereka bergantian mengurusi keuangan perusahaan dan urusan-urusan operasi lainnya. Ayah Helen menyarankan kepada Sam untuk melakukan hal yang sama di perusahaannya.

Selama bertahun-tahun saham Wal-Mart yang dimilikikeluarga Walton diperlakukan dengan pola kemitraan. Sam membagi sama saham Wal-Mart yang mereka pegang kepada anak-anaknya sama besarnya seperti yang dimiliki Sam dan Helen kecuali bahwa Sam juga menerima gaji. Dengan cara ini keluarga Saw dapat terus mengontrol Wal-Mart melalui keluarga yang bersatu. Secara total keluarga Sam Walton masih memegang 38% dari total saham perusahaan hal mana masih sangat besar bagi perusahaan seukuran Wal-Mart. Hal ini merupakan perlindungan terbaik guna menghindari pengambilalihan perusahaan oleh siapapun.

Ini adalah satu cara bagi sebuah keluarga yang memiliki keyakinan akan potensi pertumbuhan yang bisa dilakukan oleh bisnisnya. Transfer kepemilikan sudah dilakukan jauh-jauh hari sehingga Sam selaku orang tua tidak perlu membayar pajak warisan yang mahal nantinya. Secara peraturan di Amerika, warisan kepada anak-anak pun dikenakan pajak. Prinsip dibalik ini semua sangat sederhana, cara terbaik untuk menekannilai pajak adalah adalah dengan cara mendistribusikan aset sebelum aset tersebut meningkat nilainya. Seandainya Sam terlambat mendistribusikan saham-saham kepada putra-putrinya maka semakin mahal juga pajak warisan yang harus ditanggungnya ketika harga saham Wal-Mart sudah melambung tinggi.

Hal ini ternyata merupakan filosofi dan strategi yang hebat yang tidak mungkin ada tanpa nasehat ayah Helen. Manfaat lain dari penerapan kemitraan di dalam keluarga yaitu guna mempertahankan kekompakan di dalam keluarga sekaligus bagaimana Sam mempertahankan nilai-nilai standar yang dianutnya di dalam keluarga.

Helen Walton:

“Bicara dari sisi keuangan strategi ini hebat, namun ada satu hal lain yaitu hubungan yang kuat di antara anak-anak kami dan keluarga. Hal ini membangun rasa tanggung jawab mereka satu sama lain. Tidak ada yang mampu mengalahkan hal ini.”

Tidak diragukan lagi jika mengalikan harga saham Wal-Mart yang dimiliki oleh keluarga Sam Walton dengan kepemilikannya maka nilai kekayaaan mencapai $20 sampai $25 milyar. Helen dan Sam hanya memiliki 20% dari total aset keluarga di perusahaan. Sam sangat yakin bahwa sikap yang sama akan bertahan paling sedikit dalam satu generasi. Dan yang terpenting saham Wal-Mart tetap pada posisinya yang benar. Sam mengatakan bahwa mereka tidak perlu membeli kapal pesiar mewah, juga tak terpikir olehnya untuk membeli pulau. Mereka tidak memiliki ambisi sedemikian rupa yang akhirnya merusak banyak perusahaan di mana beberapa anggota keluarga mulai menjual saham perusahaan untukmembiayai kehidupan yang mahal dan kemudian tiba-tiba seseorang akan mengambil alih perusahaannya. Salah satu alasan mengapa Sam menulis buku Sam Walton, Made in America, My Story adalah untuk meneruskan kisah ini kepada anak cucu sampai ke cicitnya sampai bertahun-tahun kemudian dari sekarang.

Sam tidak ingin berpura-pura miskin namun mengakui bahwa dia punya lebih dari cukup untuk bertahan dalam waktu lama. Uang bukanlah hal terpenting baginya terutama jika itu untuk membuat orang lain terkesan. Baginya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal yang nyaman, cukup tempat bagi anjing-anjingnya, tempat untuk berburu, tempat untuk bermain tenis, bisa menyekolahkan anak-anaknya-itulah arti kekayaan bagi Sam. Sam dan keluarga suka terbang dan memiliki pesawat terbang yang bagus. Selama bertahun-tahun mereka telah membeli sekitar 18 pesawat tetapi tidak satupun dari pesawat tersebut dibeli baru sejak awal, semuanya pesawat dari tangan kedua yang tentu saja harganya jauh lebih murah dari pada membeli pesawat baru keluaran pertama dari pabrik.

Keluarga Samberkumpul di tempat-tempat yang bagus seperti Ritz Carlton di Naples, Florida atau di Del Coronado di San Diego. Rumah yang mereka tempati dirancang oleh E. Fay Jones yang meskipun agak mahal tetapi harus diakui sepadan dengan hasilnya.

Sam tidak risihdiketahui bahwa dia memiliki banyak uang tetapi meyakini bahwa tidak pantas untuk mempertontonkannya terutama di Bentonville di mana banyak penduduk harus bekerja sangat keras untuk membiayai hidup mereka, Sam juga tidak paham kehidupan selebriti di mana urusan mencukur rambut di pinggiran kota pun bisa menjadi berita yang layak dikonsumsi dunia. Kemana seharusnya kalau bukan di situ?Juga mengenai mengapa Sam yang kaya raya masih mengendarai truk bak terbuka? “Apakah saya harus mengangkut anjing saya dengan menggunakan Roll Royce?”, tanya Sam.

Pada akhirnya Sam mengakui bahwa artikel yang muncul di majalah dan kehebohan yang diciptakan oleh media-media lain ada juga manfaatnya. Di awal-awal Sam khawatir pemberitaan oleh media-media akan berdampak buruk bagi hubungannya dengan para bawahannya tetapi kekhawatirannya tidak terjadi. Mereka sangat bergembira dengan kenyataan itu. Barangkali mereka dengan bangga merasa telah ikut ambil bagian dalam kesuksesan Sam. Sam menyadari, sekarang kehadirannya di toko-toko Wal-Mart jauh lebih bermakna bagi bawahannya, mengetahui bahwa bossnya bukanlah orang biasa melainkan merupakan orang terkaya di Amerika, hadir di tengah mereka. Sam bisa merasakan perasaan itu, juga para pelanggan yang berjumpa Sam di tokonya yang tiba-tiba ingin mendapatkan tanda tangannya pada benda apa saja yang diinginkannya sampai-sampai tanda tangan di atas uang kertas untuk disimpan menjadi benda berharga layaknya memorabilia.

Charlie Baum seorang patner Wal-Mart di saat awal mengenang persentuhannya dengan Sam Walton. Suatu pagi pukul 6.00 Sam bertanya kepadanya: “Bagaimana Anda akan menginspirasi seorang cucu untuk pergi bekerja keras jika seandainya dia tahu bahwa dia tidak akan pernah miskin sepanjang hidupnya.”

Ini pertanyaan penting dari seorang Sam-Walton. Mudah baginya, bagi kita yang terlahir tidak kaya untuk bekerja keras dalam mencapai impian. Tetapi bagi seorang keturunan Walton yang dinobatkan sebagai orang terkaya di Amerika tampaknya ini bukan perkara mudah.

David Glass, CEO Wal-Mart:

“Apakah Sam punya uang?” Saya sudah berpergian bersama Sam selama tiga puluh tahun dan Anda tidak akan pernah mendengar ini dari saya. Faktanya jika saja saya tidak membaca laporan keuangan setiap tahunnya saya akan bersumpah untuk mengatakan bahwa dia (Sam) sudah bangkrut. Saya ingat pada suatu penerbangan ke New York untuk menjenguk teman di The Limited di Columbus, Ohio, tiba-tiba di bandara  Sam dengan pandangan terkejut  berkata:”David, saya tidak punya sepeserpun. Kamu punya?” Saya mengambil dompet dan menarik 2 lebar pecahan 20 dolar. Dia melihat uang yang saya keluarkan dan berkata, “Kamu tidak akan membutuhkan keduanya, bisa saya pinjam 1.”

Jika itu dikaitkan ke Wal-Mart, hampir tak ada bedanya. Pernyataan “Saya murah” adalah sebuah pernyataan yang sejalan dengan sikap Wal-Mart. Wal-Mart tidak membeli pesawat jet sampai omsetnya mendekati $40 milyar dan tokonya telah berkembang sangat jauh sampai California dan Maine. Mereka tetap mempraktekkan tinggal di satu kamar hotel berdua meskipun Sam semakin menua dan akhirnya mulai untuk tinggal di kamarnya sendirian.

Gary Reinboth, Store Manager:

“Dulu,kami akan bepergian untuk belanja barang bersama Sam, dan kami akan mencoba sekuat tenaga untuk bisa tinggal hanya di satu kamar atau maksimal dua kamar.Saya ingat suatu saat di Chicago ketika kami masuk berdelapan dalam satu kamar padahal kamarnya tidaklah terlalu besar. Anda pasti berpikir kami waktu itu pasti dalam keadaan keuangan yang parah.”

Bagaimana setelah penjualan Wal-Mart mencapai angka $50 milyar apakah mereka tetap tinggal sebegitu murah (hemat).  Jawabnya adalah “ya”, hal itu terjadi sederhana karena mereka yakin pada filosofi“nilai dari satu dolar”. Kehadiran Wal-Mart untuk memberi sesuatu yang berharga kepada pelanggannya maka itu berarti, sebagai tambahan atas kualitas dan pelayanan, Wal-Mart harus menghemat uang pelanggan. Setiap saat Wal-Mart membelanjakan satu dolar secara serampangan maka itu telah berakibat pemborosan bagi pelanggan karena pelanggan lah yang akhirnya akan menanggungnya melalui harga yang lebih mahal. Setiap saat Wal-Mart menghemat satu dolar maka itulah yang menjadikan Wal-Mart satu langkah di depan persaingan yang mana hal inilah yang selalu menjadi rencana Wal-Mart untuk diwujudkan.

 

Pelajaran dari Sam Walton:

Membangun nilai dalam perusahaan:

Sam sangat sadar bahwa penentu nilai-nilai di dalam Wal-Mart berasal dari dirinya sendiri. Sam sangat berhasil membangun nilai-nilai di dalam Wal-Mart sehingga menjadikan team yang memiliki cara pandang yang sama dengan dirinya. Begitu kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan di dalam perusahaan sehingga orang-orangnya tahu persis apa dan bagaimana Sam.

Pembelajar yang hebat

Meskipun ayah Sam bukanlah pengusaha namun Sam bisa belajar kualitas-kualitas penting dari ayahnya untuk menjadi pengusaha sukses. Sam belajar dari siapapun dan mampu menyerap pembelajaran yang dibutuhkannya dari siapapun. Dia belajar mengatasi kekurangannya dengan mengandalkan orang yang tepat seperti saudaranya yang lebih ahli dalam hal negosiasi.

Eksekutor yang patuh

Sam tahu bahwa apapun yang dipelajarinya tidak akan berguna jika tidak dilaksanakan dan Sam adalah eksekutor yang patuh pada pelajaran yang diperolehnya. Dia melaksanakan apa yang baik dan membuktikan apa yang sudah dinasehatkan kepadanya.

Pribadi yang low profile (rendah hati)

Kesuksesan dalam membangun Wal-Mart telah menjadikannya orang terkaya di Amerika Serikat namun semua itu tidak membuatnya berubah melainkan Sam adalah pribadi yang tetap rendah hati meskipun kekayaannya luar biasa. Meskipun media memberitakan dirinya secara masif namun semua itu tidak mampu merubah Sam menjadi dirinya sendiri yang sederhana.

Tidak ada uang yang terlalu kecil untuk diabaikan

Nilai dari satu dolar adalah prinsip yang dibangun oleh Sam namun di balik itu semua tidak ada nilai uang yang terlalu kecil baginya. Bahkan jika ia menemukan satu penny*-pun dia akan mengambilnya yang barangkali tidak akan dilakukan oleh orang kebanyakan khususnya saat ini. Seringkali kita melihat uang receh sebesar Rp 100,-  atau Rp 200 ,- tergeletak di jalan tanpa ada yang memungutnya. Berbeda sekali dengan sikap Sam. Banyak orang kaya tetap bahkan semakin kaya dengan gaya hidup seolah-olah dia “bangkrut”, namun berapa banyak orang yang tidak bisa kaya dan menjadi miskin hanya karena sepanjang waktu bersikap seperti orang kaya. Sam memilih yang pertama. Bergaya seperti orang “bangkrut” meskipun kaya luar biasa.

*) penny adalah koin satu sen.

Kekayaan tidak merubah life style

Dinobatkan menjadi orang terkaya di Amerika tidak serta merta merubah gaya hidup Sam dan keluarga. Mereka tetap seperti biasa. Saya rasa hal inilah yang membuat keluarga Waltons tetap menjadi orang terkaya di Amerika. Jika generasi sekarang mengenal bahwa orang terkaya di dunia adalah Warren Buffet dan Bill Gates yang secara bergantian menduduki peringkat atas dari orang terkaya di dunia maka mereka lupa bahwa jika keseluruhan saham keluarga Waltons dijadikan satu dalam satu keranjang maka gabungan kekayaan kedua orang terkaya di dunia ini pun belum tentu mampu mengalahkan kekayaan keluarga Waltons.

Sam berhasil mentransfer nilai-nilai tersebut kepada anak-anaknya yang tetap hidup bersahaja, jauh dari publikasi sambil terus meningkatkan nilai dari perusahaannya dan mampu memelihara pertumbuhan perusahaan secara baik meskipun sudah tidak didampingi oleh Sam lagi.